Skip to main content
x

Cahaya Dalam Hafalan

Hari itu, hujan turun rintik-rintik di halaman sekolah. Di dalam musholla kecil SMAIT Iqra Bengkulu, Azzam duduk bersila, memandangi mushaf di tangannya dengan ekspresi putus asa. Sudah hampir satu jam ia mencoba menghafal Surat Al-Mulk, namun setiap kali ia mengulang, hafalannya selalu terputus di tengah jalan.

“Astaghfirullah… kenapa susah sekali?” gumamnya sambil menutup wajah dengan kedua tangan.

Dari kejauhan, Ustadz Hamid, guru tahfiznya, memperhatikan. Ia lalu duduk di samping Azzam dan menepuk pundaknya dengan lembut.

“Azzam, kenapa wajahmu murung begitu?” tanyanya dengan suara tenang.

Azzam menghela napas panjang. “Saya sudah mencoba berkali-kali, Ustadz, tapi selalu lupa. Rasanya, menghafal itu sulit sekali buat saya.”

Ustadz Hamid tersenyum. “Tahukah kamu, menghafal Al-Qur’an itu seperti menanam pohon? Tidak bisa langsung tumbuh besar, butuh kesabaran dan usaha. Setiap kali kamu mengulang, itu seperti menyiramnya agar semakin kuat.”

“Tapi saya merasa sudah berusaha, Ustadz… tetap saja sulit,” kata Azzam dengan mata berkaca-kaca.

Ustadz Hamid lalu bertanya, “Azzam, bagaimana kamu menghafalnya? Apa yang kamu lakukan sebelum mulai?”

Azzam terdiam sejenak. “Saya langsung membaca ayatnya berkali-kali, Ustadz.”

Ustadz Hamid tersenyum lagi. “Coba cara ini. Sebelum mulai, wudhu dulu dengan niat yang benar. Lalu, baca terjemahannya agar kamu paham maknanya. Setelah itu, dengarkan bacaan dari qari yang kamu sukai. Baru setelah itu, mulailah menghafal ayat demi ayat, perlahan, sambil membayangkan maknanya.”

Azzam mengangguk dan mencoba mengikuti saran Ustadz Hamid. Ia mengambil wudhu, lalu membaca terjemahan Surat Al-Mulk. Ia mulai memahami bahwa surat ini mengingatkan manusia tentang kebesaran Allah dan kehidupan setelah mati. Kemudian, ia mendengarkan tilawah dari qari favoritnya sebelum mengulang hafalannya pelan-pelan.

Setelah beberapa kali mengulang, Azzam merasa ada yang berbeda. Hafalannya mulai menempel di ingatannya, dan hatinya terasa lebih tenang.

Ustadz Hamid tersenyum bangga. “Nah, bagaimana sekarang?”

Azzam tersenyum lebar. “Alhamdulillah, rasanya lebih mudah, Ustadz!”

“Bagus! Ingat, Azzam, menghafal Al-Qur’an bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling istiqomah. Teruslah berusaha, dan insyaAllah, Allah akan mudahkan.”

Sejak hari itu, Azzam tidak lagi merasa tertekan dalam menghafal. Ia belajar dengan lebih tenang dan penuh kesabaran. Lambat laun, ayat-ayat itu mulai mengisi hatinya, bukan sekadar diingat, tapi juga dipahami dan diamalkan.

***

Penulis : Fidya Hulwani Putri 

Editor : Gunawan A 


Cerita ini mengingatkan kita bahwa menghafal Al-Qur’an bukan sekadar mengingat kata-kata, tapi juga menanamkan maknanya dalam hati. Semoga menginspirasi! 😊