Jejak Cahaya di Kelas 12
Senja mulai turun di langit SMAIT Al-Hikmah. Burung-burung berterbangan kembali ke sarang, sementara di salah satu sudut masjid sekolah, Faiz masih duduk bersandar di tembok. Ia menatap mushaf di pangkuannya dengan raut wajah yang penuh kebingungan.
“Kenapa aku nggak bisa hafal-hafal juga?” gumamnya sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Faiz adalah siswa kelas 12 yang dikenal sebagai atlet futsal kebanggaan sekolah. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi tantangan besar baginya: menghafal Al-Qur’an. Teman-temannya sudah menyelesaikan hafalan minimal lima juz sebagai syarat kelulusan, tapi ia masih tertinggal jauh.
Di saat ia hampir menyerah, datanglah Ilham, sahabatnya sejak SMP yang terkenal sebagai hafiz muda. “Faiz, kamu kenapa? Dari tadi aku lihat kamu diem aja di sini,” tanyanya sambil duduk di sebelah Faiz.
Faiz menghela napas panjang. “Aku udah nyoba hafal Surat Al-Mulk berkali-kali, tapi tetap aja lupa. Rasanya kayak otakku nggak cocok buat ngafal.”
Ilham tersenyum dan menepuk pundaknya. “Faiz, kamu inget nggak dulu kita latihan futsal bareng? Kamu bisa jadi striker terbaik bukan dalam sehari, kan?”
Faiz mengangguk. “Iya, aku latihan terus setiap hari, berkali-kali.”
“Nah, hafalan juga gitu. Jangan fokus buat langsung hafal banyak. Mulai dari ayat pertama, ulangi sedikit-sedikit. Terus coba kamu bayangkan maknanya biar nggak sekadar hafal kata-kata.”
Faiz terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Oke, aku coba.”
Hari-hari berikutnya, Faiz mengubah caranya menghafal. Setiap malam, setelah latihan futsal, ia meluangkan waktu 15 menit untuk mengulang ayat-ayat yang sudah ia pelajari. Ia juga mulai mendengarkan bacaan qari favoritnya sebelum tidur, dan setiap pagi, ia mengulang ayat-ayat itu sambil berjalan ke sekolah.
Lama-kelamaan, sesuatu yang ajaib terjadi. Hafalannya mulai menempel lebih lama di ingatannya. Bahkan, saat bermain futsal, ia tanpa sadar melafalkan ayat-ayat yang ia hafal di sela-sela waktu istirahat.
Sampai suatu hari, di hadapan Ustadz Rahmat, guru tahfiznya, Faiz menyetorkan hafalannya. Suasana masjid hening saat ia melantunkan ayat terakhir dari Surat Al-Mulk dengan lancar.
Selesai membaca, Ustadz Rahmat tersenyum bangga. “MasyaAllah, Faiz. Akhirnya kamu berhasil.”
Faiz menatap ke depan dengan mata berkaca-kaca. Ia baru sadar, selama ini bukan karena ia tidak bisa, tapi karena ia belum menemukan cara yang tepat dan belum cukup sabar dalam prosesnya.
Di hari kelulusan, ia berdiri di podium bersama Ilham, menerima sertifikat tahfiz mereka dengan senyuman penuh makna.
***
Penulis : Fidya Hulwani Putri
Editor : Gunawan A