PERAN GENERASI MUDA DALAM MITIGASI BENCANA DAERAH DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI
PERAN GENERASI MUDA DALAM MITIGASI BENCANA DAERAH
DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI
Haidar Raihan
Siswa SMAIT IQRO Kota Bengkulu
ABSTRAK
.Mitigasi bencana di daerah sangat penting untuk mengembangkan kesiapsiagaan bencana pada pra-bencana, menyelamatkan nyawa, mengurangi kerugian material, dan mempercepat pemulihan pascabencana. Mengingat posisi daerah Bengkulu yang rawan bencana, mitigasi sangat penting dilakukan oleh segenap pihak terkait dan dilakukan secara berkelanjutan.
Perkembangan teknologi informasi dengan beragam sosial media, berlangsung sangat pesat. Mitigasi bencana perlu dilakukan oleh segenap masyarakat dengan mendayagunakan berbagai potensi yang ada. Perkembangan teknologi informasi atau digital sangat berpengaruh dalam mitigasi bencana yang lebih baik dengan penyebaran informasi yang cepat dan tepat dari segenap sosial media yang ada.
Generasi muda atau Pemuda berperan penting dalam pengembangan mitigasi bencana di era teknologi informasi ini, dimana pemuda memiliki kemampuan untuk cepat beradapatasi dan menerapkan teknologi informasi / digital, sehingga dapat berkontribusi bagi keberlangsungan mitigasi bencana pada masa mendatang.
Tulisan ini dibuat berdasarkan studi pustaka dan pengamatan terhadap peran pemuda dalam mitigasi bencana pada era teknologi informasi, pada masyarakat di Kelurahan Lempuing di pesisir barat Kota Bengkulu dan Kelurahan Sawah Lebar Baru Kota Bengkulu. Yang memiliki ancaman bencana banjir, gempa dan tsunami.
Hasil pengamtan menunjukkan bahwa pemuda berperan penting dalam pengembangan mitigasi bencana di daerah, antara lain peran partisipasi dalam perubahan sosial, meneruskan nilai positif dan kebiasaan baik atau kearifan lokal, Serta pemanfaatan teknologi informasi yang berkembang berupa penggunaan WhatsApp Group (WAG) RT yang efektif dalam penyebaran informasi. Pemuda juga menjadi relawan dalam penanganan pra-bencana, saat bencana dan pascabencana, seperti menjadi Contact Person Taruna Siaga Bencana (TAGANA) pada WAG RT, serta terlibat menjadi pelaku pemeriksaan kesehatan gratis bersama para mahasiswa Kedokteran UNIB dan pemuda setempat. Selain itu, pemuda aktif dalam pelestarian lingkungan melalui kegiatan WALHI, Forum Mangrove, serta penanaman pemeliharaan mangrove yang dilakukan oleh Himpunan Jurusan dan organisasi-organisasi kemahasiswaan lain di Muara Lempuing dan pantai panjang, dengan menggunakan media social WAG, YouTube, instagram dan sebagainya.
Kata Kunci : Peran Pemuda, Kesiapsiagaan Bencana
PENDAHULUAN
Bencana merupakan suatu kejadian yang berpotensi terjadi di Kota Bengkulu sebagai daerah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana, seperti banjir, gempa bumi, tsunami, gelombang pasang (goro), abrasi, dan puting beliung. Melalui mitigasi bencana maka masyarakat dapat mengembangkan kesiapsiagaan, menata kawasan dan tempat tinggal yang lebih aman, serta meningkatkat deteksi dini. Aktifitas mitigasi bencana juga dapat mengurangi dampak dan kerugian akibat bencana.
Generasi muda atau pemuda memiliki peran penting dalam aksi pengurangan risiko bencana. Dalam konteks partisipasi mitigasi bencana, pemuda mempunyai sejumlah keunggulan dalam merealisasikan berbagai aksi kebencanaan. Oleh sebab itu, keunggulan tersebut menjadi potensi strategis dalam upaya mitigasi bencana. Pemuda memiliki akses luas terhadap teknologi dan kreatifitas tinggi dalam mengembangkan dan menyebarluaskan informasi edukatif tentang kebencanaan. Pemuda juga merupakan asset pembawa perubahan dalam meningkatkan kesadaran kesiapsiagaan masyarakat.
Era Teknologi Informasi membuka peluang pengembangan mitigasi bencana yang lebih efektif, informasi dapat disampaikan dengan cepat, koordinasi menjadi lebih solid, serta pelaksanaan mitigasi dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran. Pemuda memiliki kemampuan adaptasi terhadap teknologi yang lebih cepat, sehingga dapat mengembangkan mitigasi bencana dengan lebih efektif dan berkelanjutan.
KAJIAN PUSTAKA
MITIGASI BENCANA
Mitigasi merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik secara fisik maupun melalui penyadaran dan peningkatan kemampuan dalam menghadapi ancaman bencana. (Modul Geografi SMA, 23. Mitigasi dilaksanakan melalui edukasi, pemetaan, dan pembangunan fisik (seperti rumah tahan gempa) meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah lokal, sehingga dapat meminimalisir dampak bencana.
Menurut UU Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Adapun tujuan dari mitigasi bencana adalah :
Meminimalkan risiko bencana
Sebagai pedoman pemerintah dalam perencanaan pembangunan
Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang resiko bencana
Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi bencana
PERAN PEMUDA DALAM MITIGASI BENCANA PADA ERA TEKNOLOGI INFORMASI
Pemuda harus siap menghadapi ancaman sekaligus menjawab tantangan yang ada (KEMENTRIAN Peuda dan Olah Raga, 1). Pemuda atau generasi muda, memiliki peran penting sebagai pelopor perubahan, penggerak, dan relawan dalam kesiapsiagaan bencana melalui kreativitas, energi, dan adaptasi teknologi. Mereka aktif dalam mitigasi, seperti pemetaan risiko dan edukasi masyarakat; dalam kesiapsiagaan melalui simulasi evakuasi dan edukasi tas siaga; serta respons cepat saat tanggap darurat, guna membangun komunitas yang resilien dan tangguh. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan memuat aturan tentang peran, tanggung jawab dan hak pemuda. Hal ini tercantum dalam Pasal 16: Pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional
Dalam kosa kata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan sebutan generasi muda dan kaum muda. Seringkali terminologi pemuda, generasi muda, atau kaum muda memiliki pengertian yang beragam. Pemuda adalah individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang. (Erlangga dan Masdiana, 2008 : 1-2)
PEMBAHASAN
KONDISI KEBENCANAAN DI KELURAHAN LEMPUING DAN SAWAH LEBAR BARU
Deskripsi Lokasi Kelurahan Lempuing
Lempuing merupakan Kelurahan yang terletak di pesisir pantai barat Kota Bengkulu yang memiliki kerentanan terhadap gempa, tsunami, dan banjir. Wilayah ini memiliki 3 RW yang memiliki kerentanan utama terhadap bencana tersebut. Lempuing Memiliki kelompok yang memiliki peran penting dalam penghijauan pantai, yaitu kelompok CEMARA INDAH, yang berperan dalam pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan pohon cemara di pantai Panjang. Kegiatan ini dipeplopori oleh ketua RW 1 dan dilanjutkan oleh masyarakat serta para remaja. Lempuing telah melakukan program pengurangan risiko berbasis komunitas yang juga melibatkan TAGANA (Taruna Siaga Bencana) dari kalangan generasi muda. Lempuing memiliki kawasan yang tertata rapi, karena penataan dilakukan sebelum perpindahan penduduk Kelurahan Pasar Bengkulu ke Lempuing, pada tahun 1971. Pada tahun tersebut Kelurahan Pasar Bengkulu mengalami gelombang pasang (GORO) yang merusak rumah-rumah penduduk dan fasilitas umum, sehingga penduduknya dipindahan ke Kelurahan Lempuing.
Deskripsi Lokasi Kelurahan Sawah Lebar Baru
Kelurahan Sawah Lebar Baru memiliki dua area ketinggian yang berbeda. Sebagian lainnya memiliki lokasi tinggi yang rawan gempa, sedangkan sebagian wilayah berada di dataran rendah yang rawan banjir, gempa dan tsunami. Wilayah dataran rendah berada dekat dengan sungai Tanjung Agung, sungai ini berhubungan lansung dengan sungai besar yang mengarah pada muara pantai Pasar Bengkulu, sehingga berpotensi terdampak banjir dan tsunami. Banjir sudah sering melanda kelurahan ini, yang apabila terjadi hujan dua hari berturut-turut misalnya, maka kawasan tertentu seperti Perumahan Sakinah, Perumahan Prima Indah, yang merupakan wilayah RT 30, 33, 32, 28 dan perumahan penduduk di RT 23.
Tanda-tanda bencana banjir, di Sawah Lebar Baru, apabila hujan terjadi secara terus menerus selama dua hari atau lebih, maka TAGANA dan para masyarakat akan bekerja sama memberikan peringatan untuk siap siaga, melalui WAG RT. Demikian pula, apabila terjadi luapan banjir pada sungai Rindu Hati Kabupaten Bengkulu Tengah yang merupakan hulu sunga Pasar Bengkulu dan Tanjung Agung, maka mereka akan menyebarluaskan informasi tersebut melalui WAG RT.
Mitigasi bencana telah terlaksana di Kelurahan Sawah Lebar Baru, melibatkan TAGANA, BPBD, LSM, serta Perguruan Tinggi seperti Universitas Bengkulu datang untuk memberikan bantuan logistik, layanan kesehatan, perahu evakuasi, dan pengurasan sumur.
Teknologi informasi sangat membantu dalam mitigasi pra-bencana, saat bencana dan pascabencana, dikalangan warga dengan lembaga terkait. sehingga kondisi dapat diketahui dengan lebih cepat dan tepat serta aksi sesuai dengan kebutuhan.
PERAN PEMUDA DALAM MITIGASI BENCANA DAERAH KOTA BENGKULU PADA ERA TEKNOLOGI INFORMASI
Berdasarkan teori peran pemuda dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, dan hasil pengamatan pada lokasi, maka dapat kita uarikan peran pemuda dalam mitigasi bencana daerah kota Bengkulu, sebagai berikut :
Pelopor Perubahan dan Edukasi : Pemuda menyebarkan pengetahuan mengenai tanda-tanda bencana, jalur evakuasi, dan langkah mitigasi menggunakan cara yang kreatif dan interaktif kepada masyarakat.
Pemuda memiliki peran penting dalam aksi pengurangan risiko bencana seperti membangun kesiapsiagaan dan merealisasikan aksi PRB. Hal ini terlaksana seperti pada kerjasama dengan Taruna Siaga Bencana (TAGANA) di tingkat RT, sosialisasi saat ada hujan yang berlangsung deras dan durasi lama. Juga memberikan peringatan kesiapsiagaan contohnya menyiapkan dokumen penting melalui WAG.
Penggerak Komunitas (Relawan): Pemuda mengorganisasi simulasi bencana di sekolah, kampus, dan lingkungan sekitar. serta bergabung dengan bantuan seperti TAGANA (Taruna Siaga Bencana) untuk pelatihan evakuasi.
Aktif menjadi relawan pos bencana di Sawah Lebar Baru pada bencana bajir tahun 2019. Demikian pula aksi pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis yang dilakukan oleh para mahasiswa Fakultas Kedokteran UNIB di RT 30 dan 33 Sawah Lebar baru,. Mereka melakukan pemeriksaan darah gratis untuk gula darah, kolesterol, dan asam urat.
Mitigasi Berbasis Teknologi dan Kreativitas: Pemuda membuat peta rawan bencana dan memanfaatkan medial sosial terutama WhatsApp dalam kampanye kesiapsiagaan. Memberikan informasi umum contohnya atap rumah yang menggunakan seng merupakan pilihan yang lebih aman daripada atap beton dalam kondisi gempa.
Peta rawan bencana di Lempuing
Pelopor Pelestarian Lingkungan: Pemuda aktif dalam melakukan tindakan preventif untuk mengurangi risiko bencana, seperti penanaman pohon bakau (mangrove) bersama Forum mangrove, WALHI di pantai panjang dan ujung Muara Lempuing.
Pelopor Penanggulangan Darurat: Pemuda membantu evakuasi, pertolongan pertama (P3K), dapur umum, dan manajemen logistik saat bencana terjadi.
. Berdasarkan pengamatan dan wawancara, maka perlu peningkatkan pengetahuan kebencanaan yang dimiliki oleh pemuda serta kebijakan pemerintah yang lebih mendukung organisasi lingkungan seperti Forum mangrove, WALHI dan sebagainya. .
PENUTUP
Generasi muda atau Pemuda memiliki peran penting dalam pengembangan mitigasi bencana di daerah Bengkulu pada era teknologi informasi. Untuk itu perlu dikembangkan sinergi antara pemuda, masyarakat dan pemerintah agar peran sebagai pelopor perubahan, penggerak komunitas, relawan, pelestari lingkungan, dan pelaksana penanggulangan darurat dapat berjalan secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Peran Generasi Muda dalam Ketahanan Nasional, Jakarta: Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, 2008
Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Petunjuk Penyelenggaraan Pelatihan Ketahanan Nasional Untuk Pemuda (TANNASDA), (Jakarta: Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Asisten Deputi Kepemimpinan Pemuda, 2011
Indarti, Sri, 2018, Laporan penelitian :”Implementasi Kebijakan Pengurangan Risiko Bencn ana Berbasis Komunitas di Kelurahan Lempuing Kota Bengkulu dan Pondok Kelapa Kabupaten Bengkulu Tengah”
Modul Geografi SMA, kelas 11
Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan